Apa Kabar Indonesia Malam?

Agung Prastowo

Indonesia bukan hanya jembatan panjang Suramadu. Indonesia juga bukan hanya kericuhan seperti PSSI yang mempertontonkan ketidak-beresannya. Indonesia bisa tercermin dari Presidennya yang memperoleh gaji terbesar ketiga di antara Presiden di dunia. Indonesia juga dapat dicerminkan dengan baik oleh Ponari, bocah yang pandai mengobati itu. Indonesia juga bisa dengan lugas dideskripsikan melalui “pelarian” Nazaruddin ke sebuah negeri yang banyak menyimpan stollen asset from Indonesia. Indonesia bisa tercermin dengan baik oleh kiprah Densus 88.

Kita tidak hanya perlu mengetahui kawasan-kawasan Indonesia dengan jumlah penduduk yang signifikan seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah yang masing-masing didiami sekitar 30 jutaan itu. Bagaimana mungkin melupakan Yogyakarta yang oleh SBY dituduh monarki dalam demokrasi? Bagaimana melupakan daerah-daerah miskin dengan infrastruktur yang amat minim karena ia juga bagian intergral Indonesia meski tak dapat keadilan? Ia tak mungkin dihapus dari peta karena Indonesia adalah negara yang selalu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Indonesia tidak hanya mempunyai Jakarta dengan gonjang-ganjing untuk sebuah gagasan akan pindah kemana, dengan pusat pemerintahan paling sibuk dan dengan perbauran aktivitas bisnis yang menguasai mayoritas energi serta permodalan nasional. Pusat pemerintahan yang mengeluh dan menginginkan pindah, tetapi pada saat bersamaan memaksakan diri membangun gedung megah untuk DPR. Menjadi Indonesia yang berbhineka tunggal ika tentu saja tak cukup hanya menghafal Pancasila di luar kepala pada setiap seremoni yang dirancang prestisius untuk itu. Juga tak hanya menjadi elit politik dan menjelma menjadi penentu keputusan arah kebijakan negeri.

Indonesia adalah proyek bersama yang belum selesai. Karena itu, adalah tugas kaum muda untuk membuka jalan baru bagi pemaknaan keindonesiaan mutakhir agar Indonesia tetap eksis dan aktual. Keindonesiaan penting untuk dimaknai kembali lewat rekonstruksi nasionalisme yang lebih kontekstual. Bagaimana nasionalisme baru kaum muda hadir dalam semangat untuk melawan empat permasalahan pokok yang oleh Yuddy Chrisnandi (2007) disebut 4K: kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan ketidakadilan.

Nasionalisme baru kaum muda menjadi penting karena beberapa hal. Salah satu diantaranya adalah tantangan kebangsaan yang dihadapi kaum muda saat ini berbeda dengan yang dihadapi kaum tua dahulu. Isunya telah bergeser dari isu tentang kemerdekaan dalam arti fisik kepada isu kontemporer yang lebih kompleks semisal isu kemanusiaan dan globalisasi.

Isu-isu mutakhir membutuhkan nilai-nilai baru yang dikonstruksikan sesuai dengan tantangan zaman. Tantangan yang harus diatasi oleh kaum muda hari ini adalah membuat Indonesia merdeka dan berdaulat, bukan saja dalam arti material tapi juga imaterial. Kedaulatan tak akan berarti jika kesejahteraan hanya menjadi pepesan kosong, sekadar retorika politik. Kedaulatan tak akan bermakna manakala harkat dan martabat rakyat masih sering diinjak-injak oleh saudara sebangsa sendiri.

Hal yang terpenting sekarang bagi kaum muda adalah bukan sekadar merebut dan menunggu kekuasaan dari kaum tua, melainkan soal manifesto kaum muda masa kini. Semangat kepemimpinan kaum muda yang tidak disokong oleh nilai-nilai kepahlawanan hanya akan membuat kaum muda tak ada bedanya dengan kaum tua: sekadar mencari kekuasaan dan kemudian menjelma menjadi ‘makhluk kekuasaan’.

Jadi apa yang harus dilakukan oleh pemuda kita pada saat ini? Pemuda adalah calon pemimpin bangsa Indonesia di masa yang akan datang, tentunya diharapkan pemimpin itu mampu memahami tentang keindonesiaan yang mencakup keunggulan, kelemahan, potensi, dan tantangan negara ini di masa yang akan datang. Pemimpin harus paham betul tentang permasalahan bangsa Indonesia. Selain itu, pemimpin harus mempunyai sifat negawaran. Artinya, dia sudah selesai dengan dirinya sendiri, sehingga tidak mementingkan lagi dirinya. Seluruh energinya dikerahkan untuk bangsa dan negara. Untuk menjadi Indonesia yang tetap kukuh dan berdiri. Maka sudah sewajarnya saja bangsa kita tetap waspada dan selalu membangun karakter bangsa. Membangun karakter ini diperlukan karena Introspeksi jujur menuju restorasi mentalitas keindonesiaan adalah sebuah keharusan politik pada saat ini. Adakah bangsa ini, dalam parade kepungan bencana tsunami, demam berdarah, diare, pengusiran sama saudara TKI ilegal, korupsi di KPU, kredit macet di Bank Mandiri, kekacauan politik Pilkada di daerah-daerah, masih menyisakan kebesaran dan keagungan?

Keindonesiaan adalah “hadiah” serentak “pertanggungjawaban”. Keindonesiaan sebagai “hadiah” adalah rumah bersama yang menyediakan energi kehidupan tidak terbatas, sekaligus sebuah “pertanggungjawaban” politik dalam memperjuangkan kesejahteraan bersama. Karakter kebangsaan kita ada pada titik ini, yang sekarang sedang menghadapi bahaya kebangkrutan mengerikan ini harus segera dihapuskan dengan bangsa yang berkarakter jujur. Oleh karena itu, pemuda harus memahami betul keindonesiaan itu seperti apa. Karena pemuda adalah calon pemimpin bangsa Indonesia di masa yang akan datang yang akan mebawa Keindonesiaan ini pada keterpurukan ataukah pada sebuah kemajuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: